Tentang Aku

yatnaAku  hanya seorang manusia yang sedang berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjadi lebih baik, agar kelak Aku bisa bertanggung jawab terhadap istri dan anak anak Aku…. insya Allah

Berawal Aku mengenal kehidupan dunia, terlahir sebagai seorang anak desa, sebuah desa yang sangat terpencil.., jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota metropolitan, yang ada hanyalah bunyi kicau burung di pagi hari dan bunyi tonggeret (sejenis hewan dalam bahasa sunda) disore hari mengantar matahari menuju persinggahannya di ujung barat. Desa yang memiliki nama Penanggapan, sungguh kasian desa tersebut, letaknya yang bertepatan di perbatasan jawa barat dan jawa tengah ini seakan akan tidak di akui keberadaannya oleh pemerintah daerah, bagaimana tidak, desa ini jaraknya hanya 5 KM dari kecamatan Cibingbin Jawa barat, dan 16 KM ke Kecamatan banjarharjo di jawa tengah, itu adalah jarak terdekat ke kota kecamatan yang ada. dengan kondisi seperti itu, ternyata desa penanggapan didaftarkan ke wilayah jawa tengah walaupun jaraknya yang lebih jauh 3 kali lipat dan bahasa sehari harinya adalah bahasa sunda. Peradaban dan Kebudayaan hampir seluruhnya mengadopsi dari tatar sunda, mulai dari jaipong, wayang golek, sintren, dan masih banyak yang lainnya. Tohpun sudah terdaftar ke wilayah Jawa tengah, tapi bisa dilihat pembangunannya hampir tidak ada, bila dicermati, begitu menginjak Kec Cibingbin, jalan langsung halus dan lebar, berbeda bila kita tengok ke belakang, jalan hanya lebar 3 meter dan berlubang. Tapi memang begitulah kondisinya.

Aku dan kedua orang tuaku pada awalnya serumah dengan kakek dan nenek (Abah dan Ema dalam bahasa sunda) menginjak usiaku 5 tahun, orang tuaku hendak merantau ke Jakarta. sebelum berangkataku didaftarkan ke EsDe (Sekolah dasar) hari pertama aku masuk semua pelajaran bisa aku serap, mungkin bila dinilai, nilaiku termasuk lumayan dan masuk urutan tertinggi, tapi sayang aku saat itu tidak bisa sekolah sendirian, harus selalu diantar dan ditungguin ibuku, akhirnya orang tuaku memutuskan untuk tidak menyekolahkan aku dulu. Sehingga aku turut serta ikut bersama mereka ke Jakarta untuk merantau dan mencari tumpukan rupiah, aku masih ingat kota pertama yang dituju orang tuaku, Bulak Kapal – Bekasi, kota yang panas itu menjadi pengalaman pertamaku melihat kehidupan kota. Disana dengan beralaskan terpal tidur di lahan kosong tanpa dinding. seminggu, sebulan, setahun kami lalui bersama dengan rasa bahagia, begitulah aku rasakan, walaupun kondisi seadanya, entah lah apa yang disarakan orang tuaku, yang jelas aku melihat mereka peras keringat dan banting tulang, tapi saat itu aku belum terlalu mengerti dan memahami artinya perjuangan, sehingga yang ada adalah rasa bahagia. suatu hari, orang tuaku membelikan aku sepeda baru yang sangat aku suka, aku naikin setiap hari, hingga suatu ketika aku menabrak seoarng penjual jamu :-) , untungnya si penjual jamu itu tidak memarahiku, dia hanya tersenyum dan menolongku, mungkin karena aku masih kecil…, Suatu saat terjadilah peristiwa yang membuat aku sangat sedih, aku terjatuh dari sepeda itu dan tangan kananku bengkak hingga tidak bisa di gerakan, aku hanya bisa berbaring dan terdiam, karena bila bergerak tanganku terasa sangat sakit. Yang aku rasakan saat itu adalah kasih sayang orang tuaku yang sangat sabar merawatku, walaupun aku rewel, kedokter ga mau ke tukang pijat juga ga mau, akhirnya di rawat sendiri oleh orang tuaku dengan di balut obat buatan sendiri dalam bahasa sunda namanya Arem Arem, entahlah bahasa indonesianya apa aku juga bingung. Akhirnya sebulan kemudian alhamdulillah tanganku sembuh dan aku bisa bermain kembali.

Setahun kemudian orang tuaku pindah ke kota lain, masih di kawasan Jabotabek, saat ini berada di kota Tangerang tepatnya di Kebon Nanas, tapi jangan berpikiran kalau disana banyak pohon Nanas, itu hanya sekedar nama, karena disana tidak aku temukan pelataran kebon yang di tumbuhi Nanas :-) . Di kota kedua yang aku kunjungi ini aku cepat sekali beradaptasi, banyak teman yang cepat aku kenal, baik laki laki maupun perempuan, mereka semua mau menerima aku menjadi temannya, saat itu umurku 6 tahun. Suatu hari aku melihat seorang yang bersepeda berkeliling di proyek perumahan, aku perhatikan dia ternyata dia mencari dan membeli bekas karung semen yang disebut SAK semen. Akhirnya aku sedikit tertarik, pikirku lumayan juga uang hasil penjualannya, setiap sore aku mencari bekas SAK sement dan aku kumpulkan, disaat aku bertemu dengan orang yang bersepeda tadi, akhirnya aku tawarkan barang yang aku kumpulkan, si orang yang bersepeda memilah milah SAK semen menjadi 2 kelompok, ternyata dia mengelompokan SAK semen berdasarkan jumlah lapisan di SAK semen tersebut, aku masih ingat, untuk Semen Kujang lapisannya ada 5 dan dihargai 100 rupiah dan satu kelompok lagi sak semen yang hanya berlapis 3 dengan merek tiga roda dan dihargai 50 rupah, pertama kali aku menjual, aku mengantongi seribu lebih, saat itu aku senang dan riang, aku cerita kepada orang tuaku mengenai apa yang aku lakukan. Lain hari berbeda, jauh setelah peristiwa itu, aku mendapatkan musibah beruntun, kala itu aku sedang bermain dengan teman temanku, permainan yang dilakukan adalah bermain api dengan plastik, memang saat itu aku termasuk nakal dan ditakuti oleh kawan kawanku. Plastik aku bakar kemudian aku tusuk dengan lidi, lalu aku putar putar, sementara aku di kelilingi teman temanku…, tiba tiba tuh plastik lepas dari lidi yang aku pegang, dan mendarat di lutut kananku, ya pasti membakar kulit kakiku kan…, Aku panik, aku tiup tiup, namun tetap saja membuat lututku luka terbakar hingga kulitnya mengelupas, orang tuaku melihat itu sedih, tapi lagi lagi mereka tidak memarahiku, mereka merawatku dengan sabar dan telaten, aku tidak mau kedokter, ibuku sendiri yang membersihkan luka dan memberikan perban di lututku…, satu luka belum sembuh, aku secara tidak sengaja kakiku nempel di knalpot motor yang baru berhenti, bayangkan saja, motor jenis grand disaat itu panasnya seperti apa, kini lutut kaki kiriku yang terkena luka bakar dan kulitnya hingga mengelupas pula…, Lagi lagi orang tuaku tidak memarahiku, aku hanya melihat raut wajahnya sedih…, aku tetap dirawat dan di obatinya lukaku di kedua kaki, hingga akhirnya ada 2 perban di lututku…., bekas itu hingga saat ini menjadikan eknanganku masa kecil…, yang aku sendiri merasa bahagia walaupun kondisiku saat itu serba memprihatinkan…., Setahun berlalu di Kebon Nanas ini, akhirnya tibalah saatnya aku pulang kampus untuk masuk sekolah, aku pulang hanya di antar Ayahku…, ibuku terlihat menitikan air mata kesedihan…, terlintas di wajahnya enggan berpisah dengan anaknya yang tampan ini :-) (pede nya yah) tapi perasaan itu sepertinya di abaikan ibuku, dia tau itu untuk kebaikanku. kebaikanku untuk masa depan, bekal hidup aku nanti disaat sudah dewasa. Bila pembaca renungkan, sangat jarang sekali seorang ibu yang selama ini selalu bersama dengan anak-anaknya…, tiba tiba harus berpisah diwaktu si anak masih kanak kanak dan butuh kasih sayang orang tua, terutama belaian seorang ibu…, Aku pulang dengan ayahku ke kampung.., ibuku di Tangerang sendirian, perjalanan pulangpun tidak aku ingatseperti apa, yang jelas saat itu aku hanya merasakan kesenangan naik kendaraan, (maklum masih kecil)…, bersambung ke edisi berikutnya dengan judul Hidup dalam asuhan Nenek dan kakek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.